Skripsi

Islam Pada Masa Jahiliyah Adalah

Islam pada masa jahiliyah adalah Mencari tempat rekreasi keluarga di Arab Saudi tidaklah sulit. Meskipun menerapkan syariat Islam yang ketat, dan polisi Syariah selalu melakukan patroli dimana-mana, pemerintah Arab Saudi tetap menyediakan banyak fasilitas umum yang bisa dikunjungi oleh keluarga untuk jalan-jalan. Di Riyadh sendiri ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi bersama keluarga misalnya arena bermain di Taman Murabba, arena bermain Al-Hokair, Wadi Hanifah, Kebun Binatang, Kota Tua Dir'iyah, Benteng Al-Masmak, Kingdom Tower (Burj Al-Mamlakah), Istana Yamamah, Museum Pesawat dan Museum Nasional Arab Saudi. Hal ini tentu tidak terlepas dari posisi Riyadh sebagai ibukota negara. Sebagai ibukota negara Kerajaan Arab Saudi, Riyadh telah menjadi tujuan wisata yang sangat menarik bagi penduduk lokal maupun mancanegara setelah menunaikan ibadah haji atau umroh.



Khusus pada tulisan ini saya akan melaporkan perjalanan ke Museum Nasional Arab Saudi. Museum ini terletak di King Abdul Aziz Historical Center masih di area Taman Murabba, Riyadh. Luas museum ini lebih dari 17.000 meter persegi yang dibagi menjadi 8 ruang pameran yang berisi berbagai benda peninggalan dari jaman batu, jaman jahiliyah, masuknya Islam, terbentuknya kerajaan Arab Saudi, hingga sejarah tentang dua masjid suci Masijidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah. Semuanya di ceritakan secara lengkap di museum ini baik dalam bentuk peninggalan benda-benda antik, manuskrip, berbagai gambar yang terukir di dinding hingga dalam bentuk film dokumenter.

Pada ruang display pertama yang bertema "Man and the Universe" ditampilkan berbagai jenis bebatuan meteorit yang ditemukan di gurun Rub Al-Khali. Di ruang ini juga ditampilkan sistem tata surya, perkembangan flora dan fauna dan kondisi geologi dan geografi semenanjung Arab secara ilmiah. Rangka hewan purba di atas bebatuan di letakkan di tengah-tengah ruangan ini. Ruangan ini benar-benar menggambarkan kebesaran Sang Maha Pencipta dalam menciptakan alam semesta.

Ruang display berikutnya menggambarkan sejarah panjang semenanjung arab hingga jaman jahiliyah. Di ruang ini banyak ditampilkan foto, gambar, peta dan contoh bangunan-bangunan tua dari berbagai kota seperti Makkah, Yatsrib, Khaibar, Najran dan Habasha. Di ruangan ini juga banyak terdapat manuskrip dan benda-benda antik yang juga ditampilkan dalam bentuk audio visual.

Ruang galeri berikutnya menggambarkan kehidupan dan perkembangan ajaran Islam di jazirah Arab. Ruangan ini juga menampilkan biografi singkat Nabi Muhammad sejak lahir di Mekah hingga hijrah ke Madinah. Di tampilkan juga peta perjalanan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Semuanya diceritakan dalam bentuk audio visual, gambar dan benda-benda peninggalan yang tertata rapi. Selain itu juga ditampilkan masa kejayaan ilmu pengetahuan pada masaAbbasiyah, Mamluk hingga Ottoman.

Di akhir ruangan besar, ditampilkan sejarah Arab Saudi Modern yang di tandai dengan penaklukan Riyadh oleh Raja Abdulaziz, sebagai tanda terbentuknya persatuan kerajaan Arab Saudi. Semuanya di jelaskan secara detail melalui film dokumenter. Di ruangan ini juga ditampilkan saat-saat penemuan minyak pertama kali lengkap dengan peralatan pertambangan, persenjataan, koin, buku, meja kerja raja Abdulaziz. Semua perlengkapan seharihari dan warisan tenda wol raja Abdulaziz juga di tampilkan di ruangan ini.

Menuju pintu keluar museum, ditampilkan sejarah perjalanan haji sejak jaman kuno hingga modern dalam bentuk film, artefak, naskah kuno, foto, gambar dan peta perjalanan. Di ruangan ini sejarah kota Mekah dan Madinah juga di pamerkan. Perjalanan mengelilingi museum ini memakan waktu lebih dari 2 jam. Tapi dari perjalanan di dalam museum ini anda di jamin bisa mengenal Arab Saudi lebih dekat lagi.

Setelah lelah berkeliling dalam museum, kita bisa beristirahat di Taman Murabba yang dibawahnya mengalir sungai kecil dengan air yang jernih dan disampingnya terdapat air mancur, kolam dan air terjun mini. Dijamin, suara gemercik air terjunnya mampu menghilangkan lelah dan penat.

Akhirnya, semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran bahwa Arab Saudi tidak hanya Mekah dan Madinah, tapi masih ada Riyadh lengkap dengan tujuan wisatanya yang menarik. Selamat menikmati pertualangan selanjutnya.

Dalam sejarah penyembahan terhadap berhala (paganisme), suatu kaum tak pernah melakukannya secara langsung, melainkan secara bertahap. Kaum itu mengambil tuhan lain dan menyembah pujaannya atau patung. Di zaman Arab Jahiliyah banyak yang membuat atau mengadaptasikan keberhalaan dari kaum lain untuk mereka puja. Salah seorang pelopor pembawa ajaran keberhalaan di Jazirah Arab adalah 'Amr bin Luhay dan ia seorang pemimpin dari suku Khuza'ah.

Takkala musim haji tiba, berhala-berhala itu ia berikan kepada kabilah-kabilah yang datang, lalu mereka membawa pulang berhala-berhala tersebut ke negeri mereka, sehingga setiap kabilah bahkan setiap rumah memiliki berhala. Dalam hadits shahih Imam Bukhari dikatakan bahwa berhala-berhala yang ada pada zaman Nuh akan menjadi berhala bagi Bangsa Arab setelahnya.
Arab Jahiliyah (Pra Islam)

Dalam kisah Al-Quran dan penelitian oleh sejarahwan terhadap sejarah perkembangan ajaran paganisme dalam abad kedua Hijriyah, mengatakan bahwa sebelum datangnya ajaran Islam, ajaran paganisme dalam bentuknya yang berbagai macam mempunyai kedudukan/ tempat yang tertinggi dikalangan orang-orang Arab.

Orang-orang Arab untuk mendekatkan diri kepada dewa-dewa dalam bentuk berhala, sering melakukan persembahan kurban berupa binatang ternak terkadang pula manusia. Salah satu contoh dari kasus ini adalah Abdul Muthalib kakek dari Muhammad, hampir mempersembahkan Abdullah putranya sebagai kurban.
Kepercayaan

Di wilayah Hijaz lainnya seperti Yatsrib dan Thaif disamping menganut paganisme, mereka juga mengenal kepercayaan dalam bentuk lain terlebih diluar wilayah tersebut. Beberapa agama yang dikenal oleh masyarakat tersebut adalah Yudaisme dan Nashrani. Menurut beberapa pendapat dikatakan bahwa masyarakat Arab yang tinggal di daerah pedalaman, menganut pula animisme dan dinamisme. Kepercayaan ini didapat pada syair-syair kuno yang menceritakan berbagai macam aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, gaya berfikir serta agama dan kepercayaan masyarakatnya.

Yudaisme sudah terlebih dahulu ada di beberapa wilayah Jazirah Arab, khususnya Yatsrib sebelum ajaran Islam datang. Para sejarawan menyimpulkan bahwa komunitas Yahudi yang ada di Jazirah Arab atau terlebih khusus di Yatsrib terdiri dari dua kelompok Yahudi, yaitu: Golongan keturunan Yahudi asli, mereka adalah pendatang dan Yahudi keturunan Arab yaitu orang Arab yang menganut Yudaisme. Setelah orang-orang Yahudi ini datang ke Yatsrib hadir pula dua suku Arab yang merupakan imigran dari Yaman yaitu Bani Aws dan Bani Khazraj, yang terjadi sekitar tahun 300 M.

Sedangkan menurut Syaikh Sholih al Fauzaan, bangsa Arab terbagi dua golongan. Golongan pertama yang mengikuti agama-agama Yudaisme, Nasrani dan Majusi, kemudian golongan kedua mengikuti agama Hanif (ajaran Ibrahim).
Jenis berhala

Sesembahan-sesembahan pada zaman jahiliyah inipun berbeda-beda pula antara sebutan berhala yang satu dengan yang lainnya, sebutan lainnya adalah sebagai berikut:

    Shanam adalah patung berbentuk manusia yang terbuat dari logam atau kayu,
    Wathan adalah patung berbentuk manusia yang terbuat dari batu,
    Nushub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu.

Nama-nama berhala
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mitologi Arab

Dikisahkan melalui hadits bahwa bangsa Arab Jahiliyah telah meletakkan berhala disekitar Kaabah sebanyak 360 berhala.[6] Berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan nama-nama perempuan atau lelaki, berhala yang terkenal di antaranya adalah:

    Hubal
    Berhala yang dianggap sebagai "Dewa Bulan" ini dibawa oleh 'Amr bin Luhay dari Ma'arib (Moab) suatu daerah di Balqa'. Menurut kisah dari Ibnu Hisyam, ia berkata bahwa salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa orang yang pertama mendatangkan Berhala ke Makkah adalah 'Amr bin Luhay.

    Lātta
    Berhala berupa batu yang dipahat, yang dibangun sebuah rumah di atasnya. Zaman dahulu Latta adalah seorang lelaki yang shalih yang biasa mengadon tepung untuk memberi makan jama'ah haji. Ketika dia meninggal, orang-orang pun membangun sebuah rumah di atas kuburannya dan menutupinya dengan tirai-tirai. Berhala ini adalah sesembahan kaum Tsaqif di Thaif dan pelayannya adalah dari Bani Muattab.

    'Uzzá
    Berhala pohon samurah dari Sallam yang terletak di lembah Nakhlah yang terletak antara Mekkah dan Tha'if. Di sekitarnya terdapat bangunan, dan tirai-tirai. Berhala ini juga mempunyai pelayan-pelayan (penjaga-penjaga). Uzza ini adalah berhala milik suku Quraisy, Sulaim; Gathafan dan Jusyam serta serta suku-suku yang ada di sekitarnya.

    Manāt
    Berhala berupa batu besar yang terletak tak jauh di Gunung Qudayd di antara Mekkah dan Madinah. Berhala ini adalah milik suku Khuza'ah, Aus, dan Khazraj. Jika sedang berhaji (di masa pra-Islam), mereka berihram di sisinya, dan mereka menyembahnya.

Sebenarnya keempat berhala ini hanyalah orang saleh yang pernah hidup pada zaman Ibrahim. Sesudahnya mereka meninggal, beberapa orang membuat berhala untuk menghormati orang-orang soleh itu secara berlebihan. Mereka menganggapnya sebagai anak-anak Tuhan. Tidak cukup dengan berhala-berhala besar tersebut itu saja buat orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang dan memberikan kurban-kurban dan sesaji, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah mereka masing-masing.

Berikut adalah beberapa berhala yang tidak begitu terkenal, namanya tidak disebutkan di dalam Al-Qur'an, hanya disebutkan di dalam hadits, literatur Arab klasik dan lain-lain. Diantaranya adalah:

    Manaf
    Berhala yang selalu dipuja oleh kaum wanita, tetapi ketika wanita sedang mendapat haid, mereka dilarang mendekati berhala tersebut. Kaum Quraisy sering menamakan anak mereka dengan Abd al-Manaf (hamba Manaf), terutama di kalangan Bani Hudzail. Manaf memiliki arti "ketinggian" atau "tempat tinggi".

    Dzu al-Halaas
    Berhala berbentuk batu api putih yang dipahat dan di atas batu tersebut ada sesuatu yang berbentuk mahkota. Berhala ini disembah oleh Bani Daws, Bani Khats'am dan Bani Bujailah, di negeri Yaman dan di negeri Tabalah yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Pelayan berhala ini adalah Bani 'Umamah dari Bahilah bin A'shar.

    Dzu as-Shara
    Berhala yang berbentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan, disembah oleh suku Arab keturunan Ismail, yaitu kaum Nebayot dan kaum Duma. Dianggap sebagai "anak dari seorang gadis" dan "dewa kesuburan." Nama lain berhala ini adalah Dusares/Dzu Syura, yang mendapat julukan "Sang Dewa Gunung Shara". Kabilah Bani al-Harits juga memiliki berhala ini.

    Dzu al-Kaffayn
    Berhala milik Amr bin Hamamah dari Bani Daws, yang dihancurkan oleh Thufayl bin Amr al-Dawsi atas perintah rasulallah. Berhala ini memiliki arti "dia yang memiliki kedua telapak tangan."

    Al-Fals
    Berhala berbentuk manusia terbuat dari batu merah yang berada di tengah-tengah Gunung Aja. Pemelihara berhala ini adalah dari Bani Bawlan, Bawlan sendiri adalah salah seorang yang memulai penyembahan terhadap berhala ini. Keturunan dari Bani Bawlan terakhir yang menyembah berhala ini bernama Sayfi.

    Al-Ya'bub
    Berhala para kaum Jadilah terletak di Thayyi. Sebelumnya mereka memiliki berhala yang berbeda, tetapi Bani Asad mengambilnya. Sehingga mereka mengadopsi al-Ya'bub sebagai penggantinya.

    Asaf Naylah
    Asaf bin Ya'la dan Naylah binti Zayd adalah sepasang kekasih dari Yaman, kemudian mereka melakukan ziarah ke Mekkah. Setibanya di Mekkah, mereka masuk kedalam Ka'bah dan mereka mengambil kesempatan untuk berzinah di dalamnya, ketika keadaan sepi. Kemudian mereka berubah menjadi 2 batu, yang pada akhirnya dibawa keluar dan ditempatkan ditempatnya masing-masing. Kedua batu itu kemudian di sembah oleh Bani Khuza'ah dan Quraisy, serta disembah pula oleh orang-orang yang datang berziarah ke Rumah Suci. Yang pertama kali mengadopsi berhala-berhala dan memberikan nama masing-masing, sesuai dengan tradisi yang sedang berlangsung di antara mereka, di antara Bani Ismail dan suku lainnya adalah Hudhayl bin Mudrikah.

    At–Thuraiya
    Berhala yang dianggap sebagai dewa yang melimpahkan hujan. Thuraiya memiliki arti "yang ada dalam jumlah banyak".

    Jadd
    Berhala yang sangat dihormati oleh orang-orang semit. Namanya diambil dari prasasti Nabath, tetapi dalam bentuk Gadda.

    Kuthrā
    Dianggap sebagai "dewa terkaya". Biasa digunakan sebagai nama anak lelaki oleh Suku Thai' "Abd Kuthrā".

    Awf
    Berhala yang diangap sebagai "burung besar pemangsa".

    Quzah
    Berhala dewa guntur, dianggap bisa melepaskan petir dari busurnya.

    Duwar
    Berhala gadis yang biasa dikelilingi oleh wanita muda dalam prosesi pemujaan terhadapnya.

    Ri'am
    Berhala yang berbentuk rumah pemujaan terletak di San'a milik Bani Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad bin Zaid, dan Manat bin Tamim.

    Rudha
    Berhala yang dianggap sebagai dewi "perbuatan baik" atau "kemurahan hati". Berhala ini milik Bani Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad bin Zaid bin Manat bin Tamim.

    Al-Ka'abat
    Berhala milik Kabilah Bakr bin Wail dan Taghib bin Wail, serta kabilah Iyad di daerah Sandad.

    Sa'ad
    Berhala milik Bani Kinanah, yaitu Bakr bin Kinanah, Malik bin Kinanah dan Mulkan bin Kinanah. Berhala ini berbentuk batu panjang, terletak di Pantai Juddah.

    Syams
    Berhala milik suatu kaum dari 'Udzrah. Sering digunakan sebagai nama Abd Syams (Hamba matahari}

    'Amm-Anas
    Berhala milik Kabilah Khawlan. Nama lainnya adalah 'Umyanis.

    Al-Uqaysir
    Berhala miliki Kabilah Qudi'ah, Lakhm, Judzam, 'Amilah dan Ghathafan, terletak didaerah perbukitan Syria.

    Nuhm
    Berhala milik Kabilah Muzaynah, mereka biasa menamakan anak mereka dengan nama Abd Nuhm (Hamba Nuhm). Pemelihara berhala ini bernama Khuza'i bin 'Abd Nuhm.

    Su'ayr
    Berhala milik Kabilah 'Anazah.

    Dzu al-Rijl
    Berhala yang berarti "dia yang memiliki kaki".

    Al-Qalas
    Berhala milik Bani Thayyi' berhasil dihancurkan oleh pasukan perang dibawah kepemimpinan Ali bin Abu Thalib. Berhala ini juga disembah oleh penduduk Himyar dan Yaman di San'a.

    Al-Qais
    Berhala yang disebutkan dalam prasasti Nabath dari Al Hijr.

    Shai' al-Qawm
    Berhala yang tertulis dalam prasasti Nabath dan Palmyra, dianggap sebagai dewa perang, sang malam, dan penjaga kafilah. Mendapat julukan "dewa yang tidak pernah minum anggur."

Berhala-berhala kecil seperti Dzu al-Halaas, Dzu as-Shara, Dzu al-Kaffayn dan Dzu al-Rijl biasanya diberi nama sesuai dengan nama tempat berhala itu berada.